Tampilkan postingan dengan label AREMA. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label AREMA. Tampilkan semua postingan

AREMA Launching Sponshorship






Hari Kamis ini menjadi hari yang bersejarah untuk Arema Indonesia. Tepat pukul 08.00 WIB launching sponsor Arema Indonesia untuk satu musim kedepan diresmikan. Bertempat dikawasan Ijen Nirwana seluruh pemain dan pelatih serta manajemen hadir. ini ada foto dari beberapa sumber

Leonard Tupamahu bergaya bak model

Roman tampak ceria

Coach Miro tampak santai dengan gaya casual

Ridhuan Muhammad

Ketua Panpel Arema Abriadi dan Pihak dari Ijen Nirwana

Abriadi menyampaikan sambutan

for captain

No. 24 khas Pierre Njanka

Foto bersama pihak Ijen Nirwana




After Game - Kekalahan Bukan Kematian

Victory Disease
Perang memang memberikan pelajaran yang berharga buat manusia. Tidak percaya? Coba lihat Perang Pasifik, salah satu dari sekian medan perang di ajang Perang Dunia II.

Perang Pasifik memang dimenangkan pertama kali oleh Blok Axis(Jepang). Semenjak pembokongan terhadap Pearl Harbour yang dikomandoi Laksamana Chuichi Nagumo, Jepang memperoleh kemenangan yang gilang gemilang. Bahkan dengan operasi gurita yang terkenal(western and east octopus) Jepang berhasil menginvasi Filipina, Singapura, Hindia Belanda(Indonesia), Burma, dll. Kekalahan Britania(Inggris) di SIngapura dianggap Winston Churcill sebagai kekalahan memalukan sepanjang sejarah Britania.

http://wearemania.net/images/berita/2010_09/war-pearl-harbour_797450c.jpg

Pearl Habour Hancur dan Jepang Menganggap Telah Menang


Namun, kekalahan sekutu tidaklah terlalu lama. Dimulai dari pemboman dari Geladak Kapal Induk Hornet dipimpin oleh Letkol J. Doolittle ke tanah Jepang hingga kejatuhan dua bom atom di Hiroshima dan Nagasaki. Menurut P.K. Ojong dalam buku Perang Pasifik, kejatuhan Jepang dalam perang Pasifik disebabkan oleh beberapa hal diantaranya : pasokan minyak yang terbatas, keterbatasan pilot pesawat tempur, hingga industri Jepang yang kekurangan bahan baku dan tidak sebesar Amerika.

Namun dari sekian yang diutarakan oleh P.K. Ojong saya tertarik mengenai salah satu penyebab kekalahan Jepang. Apa itu? Victory disease alias penyakit kemenangan. Seperti yang kita tahu, pemerintahan Jepang ketika itu gemar sekali mengobarkan spirit perang kepada pasukan dan penduduknya. Efek dari hal ini kebebasan pers seakan "ditutup". Berita kekalahan dikabarkan sebagai kemenangan, meski Jepang sendiri secara strategis harus mengalami kekalahan beruntun sejak pertempuran Atol Midway 1942. Akibatnya moril penduduk Jepang seakan runtuh dan laju industri Jepang tidak bergerak secara maksimal.

Di dunia sepakbola hal ini bisa terjadi seakan menyetujui sifat sepakbola sebagai suatu hal yang universal. Tak terkecuali bagi suporter. Informasi yang kurang obyektif bisa memainkan emosi seorang suporter. Pujian setinggi langit bisa membuat seseorang terlena, takabur dan akhirnya sombong karena lengah. Penyakit kemenangan(Victory Disease) dimiliki oleh Jepang ketika mereka berhasil merebut supremasi di medan Pasifik. Namun tidak menutup kemungkinan hal ini terjadi kepada kita. Who knows?

Jika Jepang merebut kemenangan beruntun di medan perang pasifik maka Arema mengalami zaman keemasan ketika secara beruntun merebut gelar juara Divisi I,dua edisi awal Copa Dji Sam Soe dan kemarin gelar Superliga yang memang sangat didambakan oleh Aremania dan Aremanita(suporter klub Arema Indonesia). Selanjutnya bisa ditebak, kebanggaan melanda di seantero Malang. Sayangnya, jika tidak hati-hati tidak tertutup kemungkinan baik Arema maupun Aremania mengalami masa-masa sulit seperti yang dialami oleh Jepang di perang dunia II.

Mereka kalah karena tidak menyadari bahaya yang timbul dari diri mereka sendiri. Terutama jika dilihat secara mentali dan kondisi psikis seseorang. Tapi siapa yang bisa menjamin manusia bisa mengalami konsistensi 100% sepanjang hayatnya. Jangan sampai diri kita sendiri yang menjadi penyebab salah satu merosotnya Fair Play dan Sportifitas itu sendiri.

Seperti yang terdapat dalam lirik lagu Kop And Headen(Close to Heaven - Color Me Badd) yang dinyanyikan oleh Padhayangan Project berbunyi "Kini Zamannya Tlah Berganti, Pemain Seringnya Malah Berkelahi Permainan Sudah Tidak Fair Lagi, Hanya Jadi Ajang Bela Diri". Lagu ini diedarkan di era 90an menjelang Piala Dunia AS 1994 dan menjadi pertanda lebih dari satu dekade ini sepakbola Indonesia hanya berkutat dalam perbaikan kompetisi, bukan untuk pencapaian prestasi ke arah yang lebih baik. Terlepas dari ketidakmampuan organisasi pengendali sepakbola tanah air ini sebagai Aremania juga harus waspada terhadap bahaya yang muncul dari dalam diri sendiri. Seperti peribahasa kita "Sepandai-pandai Tupai Melompat, Akhirnya Jatuh ke Tanah Jua". Siapa bisa menjamin?

http://wearemania.net/images/berita/2010_09/Steven+Gerrard.jpeg

Steven Gerrad Pernah Kalah Menang


Spirit Galatama
Introspeksi bukanlah kalkulasi matematis dari sebuah kegagalan dan tidak mutlak dilakukan hanya pada saat kondisi sedang kalah/kolaps. Gloria victis(Kejayaan pada yang kalah) bisa dilihat ketika Arema Indonesia meraih gelar Juara Superliga kemarin. Kondisi klub kebanggan Aremania itu bukan berada dalam kondisi seratus persen sehat, baik secara psikologi maupun ekonomi. Badai masalah turut menerjang Arema Indonesia sebelum memulai kompetisi hingga ketika Gong penutup Superliga sudah nyaring dikumandangkan.

Kekalahan Arema Indonesia atas Persisam sore ini bisa jadi ibarat sebuah saturasi (titik jenuh) yang menaungi sebagian punggawa Arema Aremania. Jenuh disini bisa diartikan beberapa macam. Jenuh sebagai bagian dari kebobrokan sepakbola Indonesia yang tersaji secara sistematis maupun jenuh secara psikologis yang terjadi akibat tekanan dari dalam diri sendiri maupun dari luar. Umumnya keadaan ini menyebabkan seseorang berubah dalam cara merasakan, berpikir dan berperilaku. Imbas dari keadaan ini bisa menjadikan seseorang stres, dan apabila dibiarkan secara terus menerus bisa berujung pada penurunan performansi dan bioritmik tim itu sendiri. Terlepas adanya secoret tinta atas sebuah selembar kontrak yang bermakna profesionalisme, dimana tim pelatih dan pemain harus berada dalam kondisi 100% untuk memperjuangkan panji-panji Arema.

Jika Anda memperhatikan sebuah gelombang sinusoida maka akan didapat sebuah titik puncak (+) dan (-). Ambil contoh bahwa Tim Arema Indonesia memiliki sebuah puncak kejayaan (dilambangkan dengan +) dan puncak kegagalan(dilambangkan dengan -) maka bisa kita hitung diantaranya perjalanan Arema Indonesia di Superliga 2008/2009 adalah sebuah keadaan dimana sebuah gelombang sinusoida berada di titik puncak (-) sementara Superliga 2009/2010 mengisyaratkan Arema berada di titik puncak (+). Hal ini bisa berlaku untuk tim ini apakah dalam perjalanannya di Superliga kali ini akan berada selalu dalam kondisi titik pucak(+) ataupun (-). Yang pasti inilah dinamika perjalanan klub sepakbola. Suka atau tidak suka, klub sebesar Real Madrid, Manchester United maupun AC Milan pernah mengalami hal ini. Untuk edisi Superliga ini hanya kita sendiri yang bisa menjawab apakah dalam kondisi menurun dari titik puncak (+) ataukah sudah berada di titik puncak (-).

http://wearemania.net/images/berita/2010_09/33

Fakhrudin Sedang Menurun dan Itu Wajar


Terlepas dari masalah wasit dan PSSI yang menjadi momok persepakbolaan nasional tidak ada salahnya kita instrospeksi diri, sambil membenahi apa yang kurang dari dalam diri kita. Bukan tidak mungkin pertandingan Arema Indonesia vs Bontang FC di Stadion Mulawarman depan dijadikan momen titik balik bagi Arema Indonesia untuk meraih jatidirinya sebagai klib yang disegani oleh pelaku sepakbola negeri ini. Syaratnya, hilangkan segera euforia kesuksesan musim kemarin. Kembalilah pada kenyataan akan realita yang ada. Seperti Quote seorang nawak, Jangan terlalu sibuk untuk menganalisa Arema, Didukung saja. Dukungan, yah dukungan itu sekarang menjadi barang mahal untuk Arema Indonesia. Terlebih untuk tim kepelatihan yang dipimpin Miroslav Janu dan tim yang dikomandoi oleh Pierre Njanka.

Ksatria di Atas Lapangan Hijau
Baron Pierre de Coubertin, Pendiri & Presiden pertama Komite Olimpiade International mengatakan "Yang terpenting dari kehidupan bukanlah kemenangan namun bagaimana bertanding dengan baik". Bukan masalah menang yang kita cari namun bagaimana kita menghargai setiap pertandingan tanpa mencederai sportivitas. Salah satu yang kita butuhkan adalah cara pandang (paradigma) dan latar belakang yang lebih komprehensif mengenai arti dari suportivitas itu sendiri.

Ibaratkan pemain sepakbola adalah legiun di sebuah bidang datar yang diselimuti rumput, maka suporter adalah seorang ksatria pendukung dari kursi berderet yang ada di atas tribun. Lyev Nikolayevich Tolstoy(Leo Tolstoy) Sastrawan terbesar Rusia di abad 19 memberikan pandangannya mengenai seorang ksatria. "The strongest of all warriors are these two — Time and Patience"(War and Peace, book X, chapter 16). Lihat juga salah satu prinsip bela diri Tarung Derajat yang berbunyi "Aku ramah bukan berarti takut, aku tunduk bukan berarti takluk".

"Fight Like a True Warrior" bukanlah bertanding dengan menggunakan otot dan otak semata, namun juga dengan hawa nafsu. Syafrein Effendi Usman dan Norain Ishak mengatakan dalam Bahasa Melayu nafsu bermakna keinginan, kecenderungan atau dorongan hati yang kuat. Jika ditambah dengan perkataan hawa(menjadi hawa nafsu) biasanya dikaitkan dengan dorongan hati kuat untuk melakukan perkara yang tidak memiliki tujuan yang baik.

Hawa nafsu bisa berwujud pada keinginan manusia akan suatu hal yang bersifat materi/kebendaan, perasaan yang menimbulkan syahwat/birahi dan sebagainya. Hawa nafsu ini seringkali melampaui akal dan indera kita, tidak dapat dienyahkan segera sesuai dengan keinginan pikiran. Interprestasi yang positif dari Hawa Nafsu bisa berupa semangat yang membara dan utamanya dibutuhkan bagi atlet. Sedangkan interprestasi yang negatif dapat berbuntut pada perilaku vandalisme, dan tindakan anarkis berupa pengrusakan materi dan harta benda. Hal ini yang menjadi permasalahan tersendiri ketika di dunia sepakbola Indonesia dimana terkadang menempatkan hawa nafsu sebagai pijakan tanpa mempedulikan sportivitas. Contoh realnya melampaui kemenangan sekaligus menjatuhkan lawan. Meski berlainan dengan falsafah Jawa "Digdaya tanpa aji, Nglurug tanpa bala, menang tanpa ngasorake". Sebuah pelajaran berharga bagi Aremania untuk bersikap sebagai ksatria sejati tanpa harus merendahkan.

Kekalahan hari ini bukanlah kiamat bagi perjalanan tim ini. Segala atensi dan respon kritik dan saran Aremania/Aremanita tentu menjadi bukti kecintaan bagi tim ini. Namun, kritik dan saran itu hendaklah ditujukan untuk membangun tim Arema ini dalam segala dukungan baik moril maupun materiil. Dukungan moril untuk menambah semangat dan harga diri pasukan Miroslav Janu, sedangkan dukungan materiil berupa pembelian tiket pertandingan Arema yang tentu dibutuhkan untuk memberikan nafas kehidupan bagi tim ini. Hendaknya, segala tenaga dan pikiran Aremania ditujukan untuk mendukung Arema dalam ide dan tindakan konstruktif, bukan membuangnya secara sia-sia dalam bentuk tindakan destruktif dan gerakan kontraproduktif bagi keberlangsungan hidup tim yang kita cintai ini.


sumber : http://www.wearemania.net/aremania-voice/after-game-kekalahan-bukan-kematian.aspx?Itemid=104

11 Agustus 1987...11 Agustus 2010: 23 Tahun Arema, SELAMAT ULANG TAHUN, Sang Juara!

11 Agustus 2010, Arema Indonesia yang terlahir dengan nama Arema Malang genap berusia 23 tahun. Selamat Ulang Tahun, Arema!

Arema Indonesia

Hari ini tim kebanggaan kita genap berusia 23 tahun, sebuah usia yang tak lagi muda, namun telah dilalui dengan torehan sejumlah prestasi dalam perjalanannya

Ulang tahun ke 23 Arema menjadi lebih spesial karena dirayakan bersama trofi juara ISL 2009/10 serta prestasi menjadi runner up Piala Indonesia 2010.

Prestasi non formal lainnya ditorehkan elemen Singo Edan mulai predikat role model (percontohan) tim profesional di Indonesia hingga suporter terbesar di Asia Tenggara dan terbesar nomor 7 di Asia.

Semua prestasi, kesuksesan, tawa, bahagia, sedih, air mata, hingga darah dan jiwa raga mengiringi 23 tahun perjalanan Arema.

SELAMAT ULANG TAHUN AREMA INDONESIA

Pemain AREMA gabung garuda merah garuda putih

Berikut foto-foto latihan timnas Garuda Merah vs Garuda Putih di Stadion Gajayana, eksklusif dari ONGISNADE.


Latihan Timnas Garuda Merah vs Garuda Putih di Stadion Gajayana

Pemain-pemain Garuda Merah dan Garuda Putih memulai latihan di stadion Gajayana


Latihan Timnas Garuda Merah vs Garuda Putih di Stadion Gajayana

Mantan pelatih Pesib Bandung, Jaya Hartono, memimpin latihan pemain-pemain timnas Garuda Merah dan Garuda Putih


Latihan Timnas Garuda Merah vs Garuda Putih di Stadion Gajayana

Airlangga Sucipto (kanan) bersama dua “pemain asing” Alessandro Trabucco dan Kim Kurniawan



Latihan Timnas Garuda Merah vs Garuda Putih di Stadion Gajayana

Latihan persiapan Charity Games di Stadion Gajayana


Latihan Timnas Garuda Merah vs Garuda Putih di Stadion Gajayana

Pemain menerima instruksi dari pelatih Jaya Hartono


Latihan Timnas Garuda Merah vs Garuda Putih di Stadion Gajayana

Calon pemain timnas? Kim Jeffrey Kurniawan


Latihan Timnas Garuda Merah vs Garuda Putih di Stadion Gajayana

Alessandro Trabucco mencoba beradaptasi dengan sepakbola Indonesia


Latihan Timnas Garuda Merah vs Garuda Putih di Stadion Gajayana

Pemain-pemain timnas Garuda Merah dan Garuda Putih saat latihan sore


Latihan Timnas Garuda Merah vs Garuda Putih di Stadion Gajayana

Beny Wahyudi sudah bergabung dengan timnas Garuda Merah dan Garuda Putih



Latihan Timnas Garuda Merah vs Garuda Putih di Stadion Gajayana

Smile: Kapten Arema saat di final Piala Indonesia, Zulkifli Syukur


Latihan Timnas Garuda Merah vs Garuda Putih di Stadion Gajayana

Purwaka Yudi sudah pulih dari cedera dan berlatih dengan pemain-pemain timnas Garuda Merah dan Garuda Putih


Latihan Timnas Garuda Merah vs Garuda Putih di Stadion Gajayana

Juan Revi, juga bergabung ke timnas Garuda Merah dan Garuda Putih


Latihan Timnas Garuda Merah vs Garuda Putih di Stadion Gajayana

Ahmad Bustomi, kembali ke lapangan hijau bersama Garuda


Latihan Timnas Garuda Merah vs Garuda Putih di Stadion Gajayana

Lebih lengkap, pemain pun siap tampil di charity games Garuda Merah vs Garuda Putih


Latihan Timnas Garuda Merah vs Garuda Putih di Stadion Gajayana

Enjoy: Kim Kurniawan dan Irfan Bachdim melakukan pendinginan setelah latihan


(foto-foto: Ongisnade/Adi Kusumajaya)



tampilkan berita ini di Facebook Twitter

arema indonesia



Arema Indonesia (dulu: Arema Malang) adalah sebuah klub sepak bola yang bermarkas di kotaMalang, Jawa Timur, Indonesia. Arema didirikan pada tanggal 11 Agustus 1987, Arema mempunyai julukan “Singo Edan” . Mereka bermain di Stadion Kanjuruhan dan Stadion Gajayana. Arema Indonesia adalah tim sekota dari Persema Malang. Sejak berganti pemilik dari PT Bentoel Investama, Tbk ke konsorsium di tahun 2009. secara resmi Arema Malang, berganti nama menjadi Arema Indonesia.

Sejak hadir di persepak bolaan nasional, Arema telah menjadi ikon dari warga Malang Raya (Kota Malang, Kabupaten Malang, Kota Batu) dan sekitarnya. Sebagai perwujudan dari simbol Arema, hampir di setiap sudut kota hingga gang-gang kecil terdapat patung dan gambar singa.[rujukan?]Kelompok suporter mereka dipanggil Aremania‘.

Sejarah

Nama Arema pada masa Kerajaan

Nama Arema adalah legenda Malang. Adalah Kidung Harsawijaya yang pertama kali mencatat nama tersebut, yaitu kisah tentang Patih Kebo Arema di kala Singosari diperintah Raja Kertanegara. Prestasi Kebo Arema gilang gemilang. Ia mematahkan pemberontakan Kelana Bhayangkara seperti ditulis dalam Kidung Panji Wijayakrama hingga seluruh pemberontak hancur seperti daun dimakan ulat. Demikian pula pemberontakan Cayaraja seperti ditulis kitab Negarakretagama. Kebo Arema pula yang menjadi penyangga politik ekspansif Kertanegara. Bersama Mahisa Anengah, Kebo Arema menaklukkan Kerajaan Pamalayu yang berpusat di Jambi. Kemudian bisa menguasai Selat Malaka. Sejarah heroik Kebo Arema memang tenggelam. Buku-buku sejarah hanya mencatat Kertanegara sebagai raja terbesar Singosari, yang pusat pemerintahannya dekat Kota Malang.

Nama Arema di dekade ‘80-an

Sampai akhirnya pada dekade 1980-an muncul kembali nama Arema. Tidak tahu persis, apakah nama itu menapak tilas dari kebesaran Kebo Arema. Yang pasti, Arema merupakan penunjuk sebuah komunitas asal Malang. Arema adalah akronim dari Arek Malang. Arema kemudian menjelma menjadi semacam “subkultur” dengan identitas, simbol dan karakter bagi masyarakat Malang. Diyakini, Arek Malang membangun reputasi dan eksistensinya di antaranya melalui musik rock dan olahraga. Selain tinju, sepak bola adalah olahraga yang menjadi jalan bagi arek malang menunjukkan reputasinya. Sehingga kelahiran tim sepak bola Arema adalah sebuah keniscayaan.

Awal mula berdirinya PS Arema

(Arema Football Club/Persatuan Sepak Bola Arema nama resminya) lahir pada tanggal 11 Agustus 1987, dengan semangat mengembangkan persepak bolaan di Malang. Pada masa itu, tim asal Malang lainnya Persema Malang bagai sebuah magnet bagi arek Malang. Stadion Gajayana –home base klub pemerintah itu– selalu disesaki penonton. Di mana Arema waktu itu ? Yang pasti, ia belum mengejawantah sebagai sebuah komunitas sepak bola. Ia masih jadi sebuah “utopia”.

Adalah Acub Zaenal yang kali pertama punya andil menelurkan pemikiran membentuk klub Galatama. Jasa “Sang Jenderal” tidak terlepas dari peran Ovan Tobing, humas Persema saat itu. “Saya masih ingat, waktu itu Pak Acub Zainal saya undang ke Stadion Gajayana ketika Persema lawan Perseden Denpasar,” ujar Ovan. Melihat penonon membludak, Acub yang kala itu menjadi Administratur Galatama lantas mencetuskan keinginan mendirikan klub galatama. “You bikin saja (klub) Galatama di Malang,” kata Ovan menirukan ucapan Acub.

Beberapa hari setelah itu, Ir Lucky Acub Zaenal –putra Mayjen TNI (purn) Acub Zaenal– mendatangi Ovan di rumahnya, Jl. Gajahmada 15. Ia diantar Dice Dirgantara yang sebelumnya sudah kenal dengan dirinya. “Waktu itu Lucky masih suka tinju dan otomotif,” katanya. Dari pembicaraan itu, Ovan menegaskan kalau dirinya tidak punya dana untuk membentuk klub galatama. “Saya hanya punya pemain,” ujarnya. Maka dipertemukanlah Lucky dengan Dirk “Derek” Sutrisno (Alm), pendiri klubArmada ‘86.

Harus diakui, awal berdirinya Arema tidak lepas dari peran besar Derek dengan Armada 86-nya. Nama Arema awalnya adalah Aremada-gabungan dari Armada dan Arema. Namun nama itu tidak bisa langgeng. Beberapa bulan kemudian diganti menjadi Arema`86. Sayang, upaya Derek untuk mempertahankan klub Galatama Arema`86 banyak mengalami hambatan, bahkan tim yang diharapkan mampu berkiprah di kancah Galatama VIII itu mulai terseok-seok karena dihimpit kesulitan dana.

Dari sinilah, Acub Zaenal dan Lucky lantas mengambil alih dan berusaha menyelamatkan Arema`86 supaya tetap survive. Setelah diambil alih, nama Arema`86 akhirnya diubah menjadi Arema dan ditetapkan pula berdirinya Arema Galatama pada 11 Agustus 1987 sesuai dengan akte notaris Pramu Haryono SH–almarhum–No 58. “Penetapan tanggal 11 Agustus 1987 itu, seperti air mengalir begitu saja, tidak berdasar penetapan (pilihan) secara khusus,” ujar Ovan mengisahkan.

Hanya saja, kata Ovan, dari pendirian bulan Agustus itulah kemudian simbol Singo (Singa) muncul. “Agustus itu kan Leo atau Singo (sesuai dengan horoscop),”imbuh Ovan. Dari sinilah kemudian, Lucky dan, Ovan mulai mengotak-atik segala persiapan untuk mewujudkan obsesi berdirinya klub Galatama kebanggaan Malang.

Perjalanan Arema di Galatama

Di awal keikut sertaan di Kompetisi Galatama Ovan Tobing dan Lucky Acub Zaenal mulai bekerja keras mengurus segala tetek-bengek mulai pemain, tempat penampungan (mess pemain), lapangan sampai kostum mulai diplaning.Bahkan,gerilya mencari pemain yang dilakukan Ovan satu bulan sebelum Arema resmi didirikan.Pemain-pemain seperti Maryanto (Persema), Jonathan (Satria Malang),Kusnadi Kamaludin (Armada), Mahdi Haris (Arseto), Jamrawi dan Yohanes Geohera (Mitra Surabaya), sampai kiper Dony Latuperisa yang kala itu tengah menjalani skorsing PSSI karena kasus suap, direkrut. Pelatih sekualitas Sinyo Aliandoe, juga bergabung.

Hanya saja, masih ada kendala yakni menyangkut mess pemain. Beruntung, Lanud Bandar Udara Abdul Rachman Saleh mau membantu dan menyediakan barak prajurit Pas Khas untuk tempat penampungan pemain. Selain barak, lapangan Pagas Abd Saleh, juga dijadikan tempat berlatih. Praktis Maryanto dkk ditampung di barak. “TNI AU memberikan andil yang besar pada Arema,” papar Ovan.

Sempat ada kendala, yakni masalah dana –masalah utama yang kelak terus membelit Arema. “Kalau memang tidak ada alternatif lain, ya papimu Luk yang harus mendanai,” jelas Ovan saat mengantarnya ke Bandara Juanda. Sepulang dari Jakarta, Acub Zaenal sepakat menjadi penyandang dana.

Prestasi klub Arema bisa dibilang seperti pasang surut, walaupun tak pernah menghuni papan bawah klasemen, hampir setiap musim kompetisi Galatama Arema F.C. tak pernah konstan di jajaran papan atas klasemen, namun demikian pada tahun 1992 Arema berhasil menjadi juara Galatama. Dengan modal pemain-pemain handal seperti Aji Santoso, Mecky Tata, Singgih Pitono, Jamrawi dan eks pelatih PSSI M Basri, Arema mampu mewujudkan mimpi masyarakat kota Malang menjadi juara kompetisi elit di Indonesia.

Perjalanan Arema di Ligina

Sejak mengikuti Liga Indonesia, Arema F.C. tercatat sudah 7 kali masuk putaran kedua. Sekali ke babak 12 besar (1996/97) dan enam kali masuk 8 besar( 1999/00, 2001, 2002, 2005, 2006,& 2007). Walaupun berprestasi lumayan, tapi Arema tidak pernah lepas dari masalah dana. Hampir setiap musim kompetisi masalah dana ini selalu menghantui sehingga tak heran hampir setiap musim manajemen klub selalu berganti. Pada tahun 2003, Arema mengalami kesulitan keuangan parah yang berpengaruh pada prestasi tim. Hal tersebut yang kemudian membuat Arema FC diakuisisikepemilikannya oleh PT Bentoel Internasional Tbk pada pertengahan musim kompetisi 2003 meskipun pada akhirnya Arema terdegradasi ke Divisi I. Sejak kepemilikan Arema dipegang oleh PT Bentoel Internasional Tbk, prestasi Arema semakin meningkat; 2004 juara Divisi I, 2005, dan 2006 juaraCopa Indonesia, 2007 juara Piala Soeratin LRN U-18, Runner Up Piala Jatim Esia[1/6/2008]Pada Final Melawan Persik Kediri dengan skor 2-1 di stadion Gelora Delta Sidoarjo. Pada tahun 2006 dan 2007 Arema dan Benny Dollo mendapatkan penghargaan dari Tabloid Bola sebagai tim terbaik dan Pelatih terbaik.

Perjalanan Arema di ISL

Di kompetisi Liga Super Indonesia ke-1 2008-2009 Arema berada di urutan ke-10. Dua bulan Setelah kompetisi usai tepatnya 3 Agustus 2009 di Hotel Santika Malang pemilik klub Arema, PT Bentoel Investama, Tbk melepas Arema ke kumpulan orang-orang peduli terhadap Arema (konsorsium). Pelepasan Arema ini adalah dampak dari penjualan saham mayoritas PT Bentoel Investama, Tbk. keBritish American Tobacco. Sebelumnya ada wacana untuk menggabungkan Arema dengan Persema Malang menjadi satu, namun ditolak oleh Aremania.

PERSIJA 1-5 AREMA: Pesta Gol, Arema Indonesia Sempurnakan Gelar Juara di Jakarta

Persija Jakarta vs Arema Indonesia 1-5 (0-2)


Juara Liga Super Indonesia 2009/10, Arema Indonesia, menutup kompetisi dengan hasil sempurna usai melumat tuan rumah Persija dengan skor telak, 5-1.

Lima gol Arema dicetak oleh tendangan bebas Esteban Guillen dan penalti Pierre Njanka di babak pertama. Persija sempat memperkecil kedudukan menjadi 1-2 melalui Bambang Pamungkas, namun pesta Aremania tak terbendung dengan tiga gol tambahan dari Roman Chmelo (2 gol) dan Noh Alam Shah.

Persija Jakarta vs Arema Indonesia
Pemain-pemain Arema dan Persija sebelum pertandingan

Persija Jakarta vs Arema Indonesia
Langkah Juara: Ahmad Bustomi dan Purwaka Yudi melangkah memasuki lapangan Stadion Utama Gelora Bung Karno

Persija Jakarta vs Arema Indonesia
Pierre Njanka, Iswan Karim, Zulkifli, dan M Fakhrudin memasuki lapangan

Persija Jakarta vs Arema Indonesia
Noh Alam Shah mengejar bola dengan bek Persija, Papa Abdou Toure

Persija Jakarta vs Arema Indonesia
Awal pesta gol: Kiper Persija, M Yasir, coba menghalau Noh Alam Shah yang akhirnya berbuah tendangan bebas Arema dan menjadi gol

Persija Jakarta vs Arema Indonesia
Esteban merayakan gol pertama Arema ke gawang Persija melalui tendangan bebas yang menjadi trademark-nya

Persija Jakarta vs Arema Indonesia
Emosi: Abanda Herman coba menyerang wasit Oki Dwi Putra

Persija Jakarta vs Arema Indonesia
Pergi kau! Bek Persija, Abanda Herman, mengibaskan tangannya pada kapten Arema, Pierre Njanka

Persija Jakarta vs Arema Indonesia
Penalti Pierre Njanka yang membuat skor menjadi 2-0 untuk keunggulan Arema Indonesia

Persija Jakarta vs Arema Indonesia
Happy Papa! Pierre Njanka merayakan golnya ke gawang mantan klub bersama Ahmad Bustomi dan Roman Chmelo

Persija Jakarta vs Arema Indonesia
Emaleu Serge coba menenangkan emosi pelatih Persija Jakarta, Benny Dollo

Persija Jakarta vs Arema Indonesia
Luapan kegembiraan Jakmania setelah Bambang Pamungkas memperkecil ketinggalan Persija menjadi 1-2

Persija Jakarta vs Arema Indonesia
Duel Roman Chmelo dengan bek Persija, Papa Abdou Toure

Persija Jakarta vs Arema Indonesia
Ridhuan Muhamad mengejar bola dihadang oleh bek Persija, Leo Saputra

Persija Jakarta vs Arema Indonesia
Roman-Goal! Selebrasi Roman Chmelo usai mencetak gol ketiga Arema ke gawang Persija

Persija Jakarta vs Arema Indonesia
Tarian juara: Dendi Santoso, Beny Wahyudi dan Noh Alam Shah meluapkan kegembiraan setelah Arema unggul 4-1

Persija Jakarta vs Arema Indonesia
Aremania mengangkat replika trofi juara di tengah lautan oranye Jakmania

Persija Jakarta vs Arema Indonesia
Hasil Sempurna! Arema Indonesia menutup musim juara dengan kemenangan telak 5-1 di ibu kota